Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang di blogku ^_^ BINGKAI HATI: NILAI KEBAHAGIAAN

NILAI KEBAHAGIAAN

09/11/2011
Pada suatu hari Ibu saya membeli kursi makan satu set. Ketika kursi itu didatangkan kerumah kami, ada tetangga sebelah rumah yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian ia bertamu kerumah saya, sambil menyengajakan diri duduk dikursi makan yang baru kami beli itu. Duduk dikursi baru itu, ia bercanda sambil mengoyang – goyangkan tubuhnya.

Waduh, enaknya kursi ini. Empuk, nyaman, membuat orang jadi kerasan saja ya. Pasti dengan duduk dikursi ini, makanan menjadi enak. Makan tempe akan terasa sate ya. :D

Demikianlah kata – kata yang secara spontan muncul dari ucapannya. Kata – kata itu tanpa sengaja tertanam begitu kuat dihati saya. Sehingga pada saat – saat tertentu, kata – kata itu sering muncul kembali. Bahkan sebagai kata – kata yang memiliki makna.

Memang dalam waktu satu atau dua hari, ketika kami menikmati kursi baru tersebut, rasanya setiap makanan menjadi lebih enak dan lebih nikmat. Tetapi rupanya itu hanya berlaku sekitar tiga hari saja. Setelah terjalani hari – hari berikutnya, perasaan kami kembali seperti semula. Lauk tempe ya seperti tempe, tidak seperti sate lagi.

Keberadaan lauk tempe terasa sate paling – paling hanya berlaku tiga hari saja. Setelah itu tidak lagi apalagi ketika perasaan kita sedang tidak baik,apalagi kita lagi sedih dan ada persoalan. Keadaan mungkin bisa malah berbalik. Makan sate jadi terasa tempe, atau gula menjadi pahit rasanya. Artinya hebatnya dunia materi, seindah dan sebagus apapun posisinya masih kalah dan masih sangat jauh dibawah dunia non materi kita.

Misalkan saja :

• Kita yang baru saja membeli baju bagus betapa senangnya hati, apalagi kalau warna dan ukurannya cocok. Begitu PD nya kita. Kemanapun kita pergi, hati selalu gembira dan senang.
• Kalau kita baru membeli mobil bagus, betapa nikmatnya duduk menyetir mobil itu. Hati berbunga – bunga. Mengemudikan kemana saja tiada rasa capek, bahkan malah sebaliknya gembira dan senanglah yang terpancar.
• Kalau kita baru membeli ranjang yang bagus, mungkin yang sedikit lebih mewah disbanding milik kita sebelumnya, sungguh betapa nikmatnya tidur diatasnya.

Beberapa hal tersebut diatas, sekedar contoh betapa saat – saat kita baru memiliki harta benda yang sebelumnya kita inginkan, begitu senang dan gembiranya hati. Tetapi setelah waktu berjalan sedikit saja, ternyata telah terjadi perubahan rasa pada diri kita. Setelah apa yang kita inginkan sudah menjadi milik kita, ternyata hanya dalam hitungan hari saja, semua itu menjadi biasa kembali tidak memberikan kontribusi perasaan bahagia lagi.

Kalau melihat dari beberapa hal tersebut, maka ada sebuah kesimpulan yang cukup menarik. Yaitu bahwa perasaan senang atau bahagia ternyata letaknya hanya berada diangan – angan kita. Atau bahkan berada pada permainan perasaan kita.

Apa saja yang kita miliki, akan menjadikan kita bahagia, jika kita bisa menata hati dalam menyikapinya. Baju baru, mobil baru, ranjang baru, rumah baru, semua benda tersebut sekedar memberi kontribusi sesaat saja. Setelah itu tidak sama sekali. Dan kembali bergantung pada bagaimana kita bisa menata hati dengan baik. Disinilah Nampak bagaimana ajaibnya sang w aktu.
Dengan berjalannya sang waktu, maka perasaan bisa berubah. Sikap marah bisa berubah menjadi sabar, perasaan gembira bisa berubah menjadi sedih, semuanya berada pada kisaran sang waktu.
Saya teringat ketika dulu masih duduk dibangku SMP, banyak diantara teman – teman saya yang sekolah membawa sepeda pancal, begitu senang dan bahagianya mereka. Begitu perasaan saya. Ingin rasanya bisa sekolah membawa sepeda seperti mereka. Ketika saya duduk dibangku SMA, banyak sekali teman – teman saya yang kesekolah membawa sepeda motor. Sungguh betapa senang dan bahagianya hati ini jika bisa sekolah membawa sepeda motor seperti mereka. Dan ketika saya berada diperguruan tinggi. Ada diantara teman saya yang membawa mobil ketika kuliah. Betapa hebatnya, mereka bisa membawa mobil ketika kuliah. Sementara saya tetap jalan kaki seperti dulu, ketika saya masih duduk dibangku SD.

Tetapi setelah saya bekerja, dimana sedikit demi sedikit bisa membeli beberapa hal yang saya inginkan itu, ternyata perasaan bahagia yang seperti saya bayangkan waktu itu, tidak ada lagi. Kalaupun ada nilainya sudah merosot jauh dari bayangan semula. Jadi nilai bahagia pada sebuah materi, begitu cepatnya terkikis oleh waktu.

Saya jadi teringat ilmu puasa. Ketika seseorang sedang berpuasa, sering kita jumpai pada siang harinya ia kepinging segala macam makanan yang enak – enak.

Misalnya :

• Ketika seseorang pada siang hari kebetulan melihat jus kesukaannya, ia akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam, ia bisa minum jus tersebut.
• Pada siang hari ia melihat nasi rendang kesukaannya, ia juga akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam ia mendapatkan nasi rendang tersebut.
• Demikian pula dengan makanan atau minuman lainnya. Ia akan membayangkannya betapa nikmat saat nanti malam itu telah tiba.
• Tetapi rupanya suasana hati kepingin bahagia itu hanya terjadi pada waktu siang saja. Yaitu ketika seseorang bisa berimajinasi tentang bahagia.

Apa yang terjadi ? Setelah sampai waktunya, semua keinginan itu nilainya merosot tajam. Rasa jus, nasi rendang, atau makanan dan minuman apa saja kalau sudah waktunya, setelah kita dapatkan ternyata rasanya juga biasa – biasa saja, tidak sehebat seperti yang dibayangkan sebelumnya. Itulah umumnya perasaan manusia.

Apa saja yang belum berada ditangan, nampaknya sangat indah dan mempesona, seakan – akan kita pasti bahagia jika mendapatkannya. Tetapi setelah kita dapatkan semua itu ternyata biasa – biasa saja. Dan kembali kita kepingin lagi dengan sesuatu yang nbelum kita dapatkan. Demikian seterusnya. Sehingga kepuasan pun tidak akan pernah kita dapatkan. Kebahagiaan yang dikejar – kejar itu, ternyata hanya terdapat dalam bayangan saja.

Kata Allah dalam Al-Quran : “Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar – benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Alaq: 6-7).

Kita diingatkan oleh Allah SWT, bahwa jika manusia berada dalam keadaan serba cukup, sering tidak bisa melihat kecukupan yang ada pada dirinya. Yang Nampak justru milik orang lain. Sehingga dengan berbagai cara dikejarnya sesuatu yang belum menjadi miliknya itu. Maka oleh Al- Quran orang – orang itu disindir sebagai orang – orang yang melampui batas.

Tentu, hal itu Insya Allah tidak terjadi bagi orang – orang yang beriman. Karena selalu menyandarkan semua persoalannya pada Allah SWT. Seorang yang beriman, Insya Allah mampu melihat apa yang telah diperolehnya sebagai anugerah yang digunakan sebagai kepentingan dijalan Allah. Sehingga akan selalu membantu manusia lainnya yang memerlukan uluran tangannya.

Sekitar sebulan yang lalu, saat hari sudah mulai malam, saya pergi kesebuah pasar yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Ketika itu dipojok serambi sebuah toko, Nampak oleh saya seorang tua tertidur pulas diatass becaknya. Nikmat sekali nampaknya.

Entah karena capek atau menunggu penumpang, pak tua ini tidur begitu pulasnya, sampai sedikit mendengkur. Saya perhatikan, dalam tidurnya itu, bapak tua itu berselimutkan kain sarung, dan berbantalkan tangannya sendiri. Dengan posisi badan yang agak terbungkuk karena tempat duduk becak tidak bisa memuat seluruh tubuhnya.

Begitu besar kekuasaan dan keadilan Allah SWT, Dia memberikan anugerah-Nya kepada pengayuh becak. Dengan suatu nilai yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang serba kecukupan.
Orang yang serba kekurangan itu mampu meraih nikmatnya tidur ditengan keramaian orang – orang yang lagi berbelanja. Dengan begitu nyamannya. Sementara banyak orang yang ranjangnya mewah, tetapi ia tidak mendapatkan nikmatnya tidur, seperti yang dimilki bapak tua pengayuh becak tersebut.

Dengan uang, memang kita bisa membeli ranjang atau tempat tidur yang mewah beserta segala aksesorisnya. Tetapi uang itu tidak bisa membeli nikmatnya tidur seperti yang diperagakan oleh pak tua pangayuh becak tersebut.

Andaikata nikmat tidur harus dibeli dengan uang, sungguh kasihan orang yang tiada punya kekayaan untuk membelinya.

• Jika ada seseorang yang bisa tidur nyenyak didalam kamar mewahnya, sementara ada orang lain yang juga bisa tidur nyenyak didalam gubuk reyotnya maka rumah mewah dan gubuk reyot itupun menjadi sama.
• Berarti, kamar mewah, gubuk reyot dan becak, menjadi sama. Karena semuanya bisa menjadikan seseorang tertidur nyenyak didalamnya.

Sungguh sifat Adil dan Kasih Sayang dari Sang Maha Pencipta, telah kita temukan pada diri Bapak pengayuh becak yang sedang tertidur pulas ini. Dengan menyaksikan seseorang yang bisa tidur pulas diatas becaknya, sungguh kita kembali bertemu dengan kekuasaan-Nya.

Subhanallah !!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar