Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang di blogku ^_^ BINGKAI HATI: Berapakah nilai diri Kita ?

Berapakah nilai diri Kita ?

11/12/2011
Mungkin kita sering mendengar tentang sebuah pepatah bijak yang bunyinya kurang lebih: Jangan berusaha menjadi orang yang berhasil, tetapi berusahalah untuk menjadi orang yang berguna.

Mendengar dan membaca kata – kata bijak diatas, saya jadi teringat seorang teman yang pernah berkata kepadaku, saya kesal dan malas sekali sama teman – teman yang ada ditempat kerjaku, bos juga sama menyebalkan. Jika aku tidak ada, mereka terus-terusan menelpon atau sms. Minta dikasih tahu cara buat laporan, minta ini dan minta itu, pokoknya semuanya deh. Rasanya capek sekali. Kapan ya aku bisa santai sedikit tanpa gangguan dari mereka.

Mendengar cerita yang mengandung sedikit keluhan itu, saya cuma menanggapinya dengan senyuman, sambil berkata singkat: bahwa itu berarti tandanya kamu dibutuhkan.

Sekarang setelah membaca kata – kata bijak itu, saya jadi berpikir. Seharusnya saya menyarankan teman saya itu untuk lebih bersyukur lagi. Karena berarti dia adalah orang yang diinginkan oleh teman – temannya. Kehadirannya selalu dibutuhkan, sampai – sampai keluar kantor sebentar saja teman – temannya langsung mencarinya. Kalau menurut saya, dia adalah orang yang berguna sesuai dengan bunyi pepatah bijak diatas. Subhanallah.

Sebagai muslim yang baik, tentu kita berharap untuk selalu mendapat ridho-Nya, meraih kecintaan-Nya. Dan saya pernah mendengar suatu hadits yang berbunyi: "Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka.” Subhanallah. Alangkah indahnya hadits itu. Kita diberitahu, bila kita menjadi orang yang berguna, maka Allah akan mencintai kita.

Saya jadi mulai berpikir, mampukah saya menjadi orang yang demikian, saat saya tidak masuk kerja, apakah saya dirindukan dan dicari, ataukah malah sebaliknya mereka tidak perduli meskipun saya tidak masuk kerja. Bermanfaatkah diri ini bagi orang – orang yang disekitar kita, ataukah keberadaan saya hanya untuk memenuhi isi bumi saja. Astagfirullah Al Adzim.

Begitu banyak pertanyaan dalam hati ini. Saya belum tahu jawabannya. Ini akan menjadi PR tersendiri bagi saya. Pastinya yang saya tahu, saya harus menjadi orang yang berguna. Yaitu ketika kita ada, orang lain menjadi senang. Ketika kita tidak ada, orang lain merindukan. Subhanallah. Alangkah indahnya menjadi orang yang demikian.

Saya jadi teringat kisah tentang nabi kita.

Ada seorang pedagang minyak wangi di Madinah yang sangat senang memandang wajah Rasulullah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah, dan dengan sabar menunggu sampai beliau keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia mengucapkan salam, memandang wajah beliau begitu lama, lalu setelah puas dia pun pergi. Begitu saja yang dilakukannya setiap kali pergi ke pasar. Suatu kali, ketika kembali dari pasar, orang itu datang lagi untuk melihat Rasulullah. Kali ini dia berkata, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Beliau mengizinkannya. Dan tak lama kemudian terdengar kabar pedagang itu meninggal dunia. Rasulullah pun terharu dan bersabda, “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkannya di hari akhirat.”

Rasulullah saw adalah contoh yang sangat dicintai. Ketika beliau hadir, para sahabat menjadi senang. Seperti pedagang minyak itu, yang tak pernah bosan memandang wajah Rasulullah sampai akhir hayatnya. Dan ketika beliau tak ada, para sahabat sangat merindukan. Banyak sekali kisah yang menjelaskan betapa besarnya kerinduan para sahabat kepada Rasulullah setelah beliau tiada.

Kita tidak mungkin bisa seperti Nabi kita. Namun, menjadi orang yang dicintai baik ketika ada maupun tiada, bukanlah suatu hal yang sulit. Bagaimana caranya? Sederhana, yaitu jadilah orang yang berguna bagi saudara – saudara kita yang lainnya.

Mari kita renungkan hadits berikut:

Rasulullah saw bersabda,

"Barangsiapa mengajar orang lain kepada suatu petunjuk,
maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang
yang melaksanakan petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala
mereka sama sekali." (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah)

Begitu pula pekerjaan yang paling utama adalah pekerjaan yang
paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang
yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang
paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang
dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan
kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya,
atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh aku
berjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk suatu
keperluan (da'wah), adalah lebih aku cintai daripada
beriktikaf di masjid selama satu bulan."(diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Umar)

Begitulah pekerjaan yang berkaitan dengan perbaikan dan
kepentingan masyarakat adalah lebih utama daripada pekerjaan
yang dimanfaatkan oleh diri sendiri.

Ya! Untuk menjadi orang yang berguna, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Menghibur teman yang sedang sedih, menjadi teman curhatnya, membuatnya kembali tertawa, segala sesuatu yang berkaitan dengan keseharian kita. Memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang lain mengatasi kesulitan hidupnya, bersedekah, dan lain – lain adalah perbuatan yang berguna.

Singkat kata, Hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu, Hidup bukan hanya mencapai hasil. Namun lebih dari itu, sudahkah kita menjadi orang yang berguna, Orang yang membawa keceriaan bagi orang lain yang ada di sekeliling kita.

DIA menciptakan kita semua didunia ini tidak ada satupun yang sia – sia. Allah swt telah menciptakan kita untuk menjadi rahmat. Mampukah kita melakukannya? Jangan biarkan diri kita terabaikan, dan tak terlihat, seperti debu kecil lewat. Biarkan orang tahu bahwa kita ada, yakni dengan melakuan sesuatu yang berguna. Alangkah indah bila keberadaan kita menjadi kebaikan bagi orang banyak.

Mari kita sama – sama memulai dari sekarang, biarkan orang menyadari kehadiran kita. Bukan dengan banyak bicara sehingga kata-kata didengar, tapi dengan tindakan yang bermanfaat untuk sekitar. Walaupun kita pendiam, dan tidak banyak bicara, tapi bila menghasilkan karya yang baik, kita akan dilirik. Itulah esensi dari keberhasilan dan kebahagaiaan. Benarlah kata bijak tersebut, jangan berusaha menjadi orang yang berhasil, tapi berusahalah jadi orang yang berguna. Dengan menjadi orang yang berguna, kita pasti akan menjadi orang yang berhasil. Tidak hanya meraih keuntungan diri, namun juga meraih cinta sesama, dan yang terpenting dapat menggapai kecintaan dari-Nya.

Insya Allah !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar