Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang di blogku ^_^ BINGKAI HATI: Tersebab Hujan, Bukan Hanya Tanah Yang Menjadi Subur, Tapi Insya Allah Iman Juga.

Tersebab Hujan, Bukan Hanya Tanah Yang Menjadi Subur, Tapi Insya Allah Iman Juga.

28/12/2011
“Pulau Jawa Paling Beresiko Terkena Kekeringan” (www.detiknews.com 18/9/2011). Di saat-saat seperti itu, biasanya orang lalu ingat hujan dan berharap segera turun. Itu saja! Jarang yang merenungkan, bahwa di balik hujan ada tanda-tanda Kemahabesaran Allah.
Terukur! Hebat!

Mari, kita tadabburi “apa dan bagaimana” hujan itu. Untuk itu, kita ikuti kajian menarik dari Harun Yahya atas sejumlah ayat Al-Qur’an seperti yang ditulisnya di www.harunyahya.com. Berikut ini petikannya.

Pertama, air turun ke bumi menurut kadar tertentu. Hujan adalah air yang diturunkan Allah ‘menurut kadar’. “Dan, Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) …” (QS Az-Zukhruf [43]: 11).

Hujan turun dalam takaran yang tepat. Misal, kecepatan turunnya. Benda yang berat dan ukurannya sama dengan air hujan, bila dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, akan mengalami percepatan terus-menerus dan jatuh ke bumi dengan kecepatan 558 km/jam. Sementara, rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanya 8-10 km/jam.

Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah. Andai bentuk titik hujan berbeda, atau andai atmosfer tak memiliki sifat gesekan, bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan. Lihatlah angka-angka di bawah ini.

Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter. Pada kasus ini, satu tetes air yang jatuh akan memiliki efek yang sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 110 cm.

Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan ‘takaran’.

Kedua, air hujan adalah tawar. “Maka, terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin. Maka, mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS Al-Waqi’ah [56]: 68-70). “… dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar?” (QS Al-Mursalaat [77]: 27). “Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu” (QS An-Nahl [16]: 10).

Air hujan berasal dari penguapan air dan 97% di antaranya adalah penguapan air laut yang asin. Namun, air hujan adalah tawar. Air hujan tawar karena adanya hukum fisika yang ditetapkan Allah. Berdasarkan hukum ini, dari manapun asalnya penguapan air ini, baik dari laut yang asin, dari danau yang mengandung mineral, atau dari dalam lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain. Air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai ketentuan Allah. “… Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS Al-Furqaan [25]: 48).

Ketiga, hujan memberi kehidupan bagi tanah yang mati. Di Al-Qur’an, banyak ayat yang menyeru kita agar memerhatikan bahwa hujan berguna untuk menghidupkan tanah yang mati. “… dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak” (QS Al-Furqaan [25]: 48-49).

Hujan juga berfungsi sebagai penyubur. Hujan mengandung zat-zat tertentu yang bisa memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan yang ‘memberi kehidupan’ ini disebut ‘tetesan tegangan permukaan’. Tetesan tegangan permukaan terbentuk di bagian atas permukaan laut, yang disebut lapisan mikro oleh ahli biologi. Pada lapisan yang lebih tipis dari 1/10 mm ini, terdapat sisa senyawa organik dari polusi yang disebabkan oleh ganggang mikroskopis dan zooplankton. Dalam sisa senyawa organik ini terkandung beberapa unsur yang sangat jarang ditemukan pada air laut seperti fosfor, magnesium, kalium, dan beberapa logam berat seperti tembaga, seng, kobal, dan timah. Tetesan berisi ‘pupuk’ ini naik ke langit dengan bantuan angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi sebagai tetesan hujan. Dari air hujan inilah, benih dan tumbuhan di bumi memeroleh berbagai garam logam dan unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka. “Dan, Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS Qaaf [50]: 9).

Garam-garam mineral yang turun bersama hujan merupakan contoh dari pupuk konvensional (kalsium, magnesium, kalium, dan lain-lain) yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan. Sementara, logam berat, yang terdapat dalam tipe aerosol ini, adalah unsur-unsur lain yang meningkatkan kesuburan pada masa perkembangan dan produksi tanaman.

Singkat kata, hujan adalah penyubur yang sangat penting. Setelah seratus tahun lebih, tanah tandus dapat menjadi subur dan kaya akan unsur esensial untuk tanaman, hanya dari pupuk yang jatuh bersama hujan. Hutan pun berkembang dan diberi ‘makan’ dengan bantuan aerosol dari laut tersebut.

Dengan cara seperti ini, 150 juta ton pupuk jatuh ke permukaan bumi setiap tahunnya. Andai tidak ada pupuk alami seperti ini, di bumi ini hanya akan terdapat sedikit tumbuhan, dan keseimbangan ekologi akan terganggu. Sungguh, “ … Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam” (QS Thaahaa [20]: 52-53).

Buah Tadabbur

Sangat mengesankan penjelasan Al-Qur’an tentang hujan, yang lalu diuraikan secara memikat oleh Harun Yahya. Maka, nikmat besar bernama hujan ini akankah hanya akan berlalu begitu saja tanpa bisa menambah subur iman kita?

http://www.anwardjaelani.com/hujan-ayat-penyubur-iman/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar