Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang di blogku ^_^ BINGKAI HATI: Sang Pemilik Kurma yang Kikir

Sang Pemilik Kurma yang Kikir

24/12/2011
Sebuah pohon kurma tumbuh subur. Daunnya lebat, mayangnya menjuntai sampai kerumah tetangganya yang miskin, banyak anak lagi. Tetapi mereka hanya bisa gigit jari melihatnya. Setiap kurma itu berbuah, pemiliknya memetik lewat rumah tetangganya itu, namun ia tidak meninggalkan sebuahpun untuk anak - anak orang miskin yang sangat ingin menikmati buah kurma tersebut. Bahkan, apabila ada buah yang jatuh dan dipungut anak - anak miskin itu, pemilik kurma merampasnya kembali.

Sampai - sampai buah kurma yang sudah terlanjur dimulut anak - anak miskin itupun dimintanya kembali, '' Ini kurmaku, kalian tak berhak memakan buah ini,'' Hardiknya.

Melihat perlakuan pemilik kurma itu, orang miskin itupun mengadu kepada Rasulullah. Pengaduan ini diterima, dan Rasulullah berjanji akan menyelesaikannya.Ditemuilah pemilik kurma itu oleh Nabi, seraya berkata " Berikanlah pohon kurma yang mayangnya berjuntai kerumah simiskin itu kepadanya. Sebagai gantinya, kau akan memperolehnya nanti di Syurga." Kata Rasulullah.

Tetapi pemilik kurma itu menjawab " Cuma itu tawaranmu ? " Karena sifat kikirnya, tawaran syurga yang diberikan oleh Rasulullah sebagai penggantinya pun ditolaknya. Bahkan dengan mencibirkan mulutnya, pemilik kurma tersebut beranjak pergi meninggalkan Rasulullah SAW. Na'udzubillahi mindzalik.

Dikutip dari kisah bijak orang - orang Sholeh.

Pelajaran Hidup

"Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr 9)

Ingin mengumpulkan harta sebanyak mungkin, dan bakhil mendermakannya selain untuk keinginan nafsunya, adalah tabiat buruk yang disandang banyak manusia. Dengan sifat itu, mereka menyangka bisa meraih keberuntungan. Namun ayat ini justru meyakinkan sebaliknya. Keberuntungan bisa didapatkan ketika seseorang terhindar dari sifat kekikiran. Sifat kikir mengundang banyak sekali kerugian dan keburukan, maka barangsiapa yang terhindar darinya, maka dia terhindar dari banyak kerugian dan keburukan.

Orang yang kikir tak pernah merasakan lapangnya dada, atau puasnya hati saat memiliki. Panasnya hati saat berambisi terhadap sesuatu yang belum dimiliki, melalaikan dirinya dari kebahagiaan yang mestinya dia rasakan karena telah memiliki sesuatu yang bisa dinikmati. Derita ini tidak pernah berkurang kadarnya, meski dia telah berhasil meraih ambisinya. Karena sifat tamaknya segera mengalihkan pandangannya kepada kenikmatan lain, sebelum dia sempat menikmati hasil jerih payahnya. Jika keberhasilannya meraih tujuan tak bisa membuat hati menjadi nyaman dan tenang, lantas bagaimana jika usahanya menemui jalan buntu, betapa hatinya makin terbakar karenanya. Sungguh beruntung, jiwa yang terhindar dari kikir dan bakhil.

”Jauhilah oleh kalian sifat kikir (syuhh). Karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.” (HR Abu Dawud)

Harta yang mestinya berfaedah menenangkan jiwa, juga mengikat sahabat dan kerabat, justru menjadi petaka bagi orang yang bakhil. Padahal persahabatan, persaudaraan dan kekerabatan adalah faktor penting yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan. Jauh lebih penting dari sekedar mempertahankan harta dan menimbunnya.

Adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata, ”Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh untuk diumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.

Meski sifat kikir diharapkan bisa mendatangkan keuntungan materi bagi pemiliknya, namun tidak demikian kenyataannya. Kikir tak akan menambah harta dunia, apalagi kekayaan akhirat. Orang yang kikir akan luput dari doa malaikat untuk keberkahan orang yang mendermakan hartanya. Justru doa kebangkrutan tiap pagi yang tertuju untuknya. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

”Tiada datang pagi hari yang dilalui hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ”Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi orang yang berderma.” Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, ”Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)

Yang paling parah, sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan. Karena sifat ini merusak hasrat akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka,

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. at-Taubah: 35)

Sungguh kikir adalah salah satu penyakit hati yang paling kronis. Orang yg terjangkit penyakit ini akan mengukur segala sesuatu atas pertimbangan untung rugi atau atas dasar keuntungan materi semata. Karenan, orang yang terjangkit penyakit ini akan sulit sekali untuk berbagi dan memberi kepada orang lain,menstasharufkan hartanya untuk kepentingan keluarga dan dirinya sendiri saja ia enggan untuk melakukannya. Karena itu, meskipun orang yang kikir itu banyak hartanya, sejatinya ia adalah orang yang paling miskin didunia.

Mengapa ? Karena hatinya telah sempit, tidak bisa tenang dan selalu saja dirundung rasa cemas, merasa kurang, bahkan mungkin ia tidak bisa menikmati harta benda yang dimilikinya. Karena itu, sesungguhnya orang yang kikir adalah orang yang paling menderita.

Sifat kikir memang bisa menutup hati dan membuatnya menjadi keras. Oleh karena itu Rasulullah memperingatkan kita untuk senantiasa menjahui sifat kikir ini.Karena sifat kikir itu dapat membakar kebaikan sebagai mana api yang membakar kayu bakar.

Lebih dari itu, dalam kehidupan sehari - hari, orang yang kikir akan terkucil dalam kehidupan bermasyarakat. Siapa orang yang mau berdekatan dan bergaul dengan orang yang kikir ? Orang yang kikir akan selalu jauh dari Allah SWT, jauh dari manusia, dan lebih dekat kepada Neraka.

Allah sangat mengecam orang - orang yang kikir, dengan berfirman" Orang - orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan - Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang - orang kafir siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa : 37)

Allahumma qinaa syuhha anfusanaa. Ya Allah, jauhkanlah diri kami dari kekikiran, Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar