Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang di blogku ^_^ BINGKAI HATI: Menjaga Lisan !

Menjaga Lisan !

21/12/2011
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf [50] : 18)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila seseorang hendak berbicara, maka hendaknya dia berpikir sebelum berbicara. Jika ada kebaikan yang bermanfaat pada apa yang akan ia katakan, maka dia hendaklah dia berbicara. Dan jika dia meragukannya, maka dia jangan berbicara sampai dia menjernihkan keraguan itu (dengan menjadikan pembicaraannya baik).”

Kesempurnaan Islam seseorang bisa diukur dari sikapnya terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, baik yang berkaitan dengan dunianya maupun diennya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya meninggalkan segala hal/perbuatan yang tidak bermanfaat dan tidak penting. Hal ini juga bertujuan memberikan ketenangan jiwa dan tidak terbebani oleh suatu perkara. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Dari tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At-TiRmidzi)

Kemarin dulu, saya banyak sekali kerjaan dikantor, maklumlah anak-anak sudah selesai ulangan semester ganjil. Dan kalau selesai ulangan, yang pastinya banyak guru yang tidak masuk disekolah, mereka banyak yang membawa bahan ujian siswa untuk diperiksa dirumah.
Sebagai tata usaha di sekolah tersebut, saya selalu saja hadir. Karena ada saja yang harus kerjakan dikantor. Diantaranya rekap nilai, membuat data siswa, menyusun laporan bulanan, dan lain sebagainya.

Pada hari itu, saya agak lama berada dikantor. Soalnya ada yang ingin saya selesaikan sampai tuntas. Yaitu membuat data siswa kelas enam yang mau dikirim ke kantor dinas dengan segera. Siang itu banyak guru yang sudah pulang. Tinggal saya, pak sekuriti, dan beberapa murid yang masih ada disekolah. Maklumlah namanya anak- anak paling suka bermain. Apalagi ketika selesai ulangan, sudah tidak aktif lagi belajar. Jadi mungkin kesempatan itulah yang banyak digunakan siswa siswi sebagai ajang bermain. Ada juga beberapa siswa yang baca – baca diperpustakaan, namun kebanyakan yang bermain bola, dan lain – lain.

Tak sengaja ketika aku membuat data siswa. Dibelakangku ada beberapa murid kelas 5 SD yang sedang duduk santai didalam kantor. Mereka semua adalah anak – anak perempuan yang terdiri dari beraneka ragam karakter dan sifat. Ada yang baik, ada yang tidak baik, dsb.

Pada saat aku asyik mengetik, tidak disangka aku mendengarkan percakapan singkat mereka. Yang lumayan buat hiburan sambil ngetik, berhubung speaker ditempat kerjaku rusak. Maka candaan anak – anak ini lumayan bisa sedikit menghiburku.

Awalnya mereka bercerita tentang syetan – syetan. Dan menurut kesimpulanku syetan yang mereka ceritakan adalah yang banyak tampil dan main diTelevisi. Salah satu murid berkata, semalam aku melihat bayangan lewat disamping rumahku. Pas ketika itu suara gongongan anjingpun menyertainya. Jadi kesannya seakan – akan kejadian tersebut menambah kesan mistisnya. Dan beberapa anak murid yang lainnyapun kayaknya tampak terbawa suasana ketika itu. Semuanya pada takut dan merinding dengan sedikit nada suara yang terdengar agak serius berkata, ihh seramnya. Tapi ada sebagian murid yang lain menimpali, ahh kamu bohong, masa didunia ini ada syetan, saya gak percaya ada setan didunia ini, kecuali saya sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri.

Tapi si empunya cerita mistis tersebut tidak mau kalah, ia tetap menambahkan dengan nada suara agak ditinggikan sedikit, seakan – akan ia tidak mau jika cerita yang dibawakannya tadi merupakan sebuah karangan saja. Lalu ia berkata, ya sudah to, kalau kamu tidak percaya. Yang jelas ini saya bilang betul, bukan main – main. Katanya sambil sedikit manyun.

Kemudian sinia yang tadi membantah cerita itu hanya sebuah kebohongan belaka, akhirnya pun berucap, iyoka tapi walaupun begitu saya tidak takut dengan ko pu cerita setan – setan itu. Sedangkan murid – murid yang lain hanya bengong sambil mendengarkan saja percakapan antara dua orang sahabatnya itu. Tak sengaja saya kemudian mendengar ada satu suara yang kemudian menyahut dari belakang, katanya mungkin itu karna ko tidak tahu sembahyang dan berdoa makanya setan dia datang ganggu ko. Katanya sambil ketawa.

Saya yang mengetik didalam, hanya tertawa geli dan berkata dalam hati, ini anak – anak kebanyakan nonton film horor makanya terbawa sampai kehidupan nyata. Soal benar atau tidaknya cerita mereka. Allahua’lam.

Setelah selesai mereka bercerita yang agak horor tersebut. Tak berselang beberapa menit kemudian ada seorang anak yang bernama Anisa mulai membuka obrolan baru. Seperti cerita yang pertama, untuk cerita yang kedua ini akupun tetap mendegarnya. Walaupun mereka tidak menyangka kalau ternyata saya ikut menyimaknya secara diam-diam walau sambil mengetik.

Si Anisa memulai percakapannya, hai ana, nia, ririn, kalian tahu tidak kalau davina kemarin dia bilang saya katanya ana ko tu pelit karena kemarin katanya ko tidak kasih dia gula-gula, padahal anak yang lain ko kasih. Baru nia, dafina da bilang ko tu cerewet. Katanya nia tu dia tidak tahu hitung baru paling suka bicara banyak, coba malukah, masa pintar bicara baru, tidak tahu menghitung.

Mendengar kata – kata itu, saya sempat kaget sekali sambil beristighfar dalam hati. Mengapa anak – anak ni kok bisa ya membicarakan teman mereka sendiri. Aku sungguh kaget sekali. Kok bisa ya anak – kecil sudah pada pandai dalam bergosip. Ketika mendengar si anisa berkata itu, aku sempat berbalik untuk melihat raut wajah ana dan nia. Dan pastinya kita semua sudah bisa menebak, wajah yang tidak bersahabat mulai nampak pada muka mereka.

Nia dan ana kemudian berkata dengan wajah sedikit cemberut, masa sih dafina bilang begitu. Saya kurang percaya mendengarnya. Ketika mereka menjawab demikian aku kemudian melihat kembali raut wajah mereka yang sedikit cemberut disertai wajah yang seakan-akan kurang percaya. Lalu tanpa disangka-sangka si ririn kemudia mengeluarkan pendapatnya, katanya: ahh Aanisa kau tipu, saya percaya dafina tidak akan bicara seperti itu, karna saya tahu dafina itu anakanya kayak apa. Dia itu orangnya pendiam dan tidak banyak bicara seperti kau. Ko tipu saja to. Saya tahu, nanti besok saya tanya dia ee, kalau ko crita – crita dia jelek. Mendengar hal itu dari si ririn, anisa yang tidak mau kalah, berkata: iyo sudah kalau ko tidak percaya, ko tanya saja dia. Saya tidak takut. Karena itu memang betul kemarin dia yang bilang saya begitu.

Kebetulan ketika itu ada pak sekuriti yang mungkin ikut mendengar ucapan si anisa yang sedang bergosip tidak baik, makanya Beliau sedikit menegur dan mengingatkan ke anisa dan teman-temannya yang lain, beliau berkata : Hai anak- anak kalian kalau sudah tidak ada kegiatan lagi disekolah sebaiknya pulang saja, jangan bicara banyak. Apalagi sampai bicara jelek buat teman yang lain. Nanti Tuhan marah, kamu semua tidak takutkah masuk neraka? Kata Pak sekuriti menegur.

Mendengarkan nasehat beliau, aku sedikit lega. Dan anak – anakpun ketika itu mulai terdiam dan mulai menyiapkan dirinya untuk bersiap – siap untuk pulang. Kecuali si anisa, ia masih tinggal untuk menunggu jemputannya datang. Kebetulan rumahnya yang paling jauh dari teman-temannya yang lain.

Ternyata, ketika itu memang dafina yang mereka ceritakan itu, tidak datang hari itu. Maklumlah biasanya orang itu paling suka bercerita dibelakangnya ketika tidak ada orangnya. Dari semua cerita yang disampaikan anisa, aku juga gak percaya. Karena setahuku memang dafina anaknya baik dan pendiam. Ketika jam istirahat tiba, ia paling suka masuk perpustakaan baca-baca dan bertanya jika dia tidak tahu apa yang dibacanya. Dan anaknya terbilang pandai. Sedangkan si anisa termasuk anak yang pandai juga, hanya saja dia anaknya suka berbicara. Itulah manusia, walaupun rambut sama hitamnya tapi pasti memiliki sifat yang berbeda- beda.

Dari ikhtibar diatas, saya jadi mulai berpikir bahwa dalam hidup ini ternyata kita semua tidak lepas dari gosip – gosip yang bertebaran disekita kita. Ada saja orang – orang yang bercerita dibelakang temannya sendiri. Mungkin inikah yang dinamakan iri ya ? yang mana ia tidak senang jika melihat temannya bahagia, dan bahagia jika melihat temannya sedih. Astaghfirullah Al Adzim.

Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya adu domba mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan dengki telah memenuhi hati. Atau meski bisa menjaga lisan dari adu domba, akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita harus benar – benar hati hati dalam hidup ini, agar tidak terjerumuss menjadi orang yang sama, sebagai penyebar gossip dan suka mengadu domba.

Ketika itu saya memanggil anisa dan mengajaknya bicara dengan baik – baik, kataku : janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah adu domba dan suka bergosip yang tidak baik. Karena betapa banyak perbuatan demikian yang terjadi karena timbulnya dengki di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna, apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik.

Mendengar nasehatku, si anisa hanya terdiam sambil terlihat raut wajah yang sedih dan menyesali perbuatannya tersebut. Aku bilang, jangan lagi anisa berbuat hal yang demikian, karena terkadang jika kita bercerita yang buruk bagi teman kita yang lain, maka mungkin disuatu tempat yang lain teman kita yang lain juga akan bercerita tentang sesuatu yang buruk tentang kita. Dan Allah akan murka kepada hamba-Nya yang suka berbuat jahat kepada saudaranya yang lain. Maka dari itu mulailah dengan meminta maaf kepada teman yang sudah anisa sakiti dengan kata – kata yang kurang berkenan dihati tersebut. Dan yakinlah sesuatu yang baik akan berbuah kebaikan dan begitupun sebaliknya.

Setelah itu, aku lihat anisa sudah mulai mengurangi kebiasaaanya untuk berbicara yang tidak penting lagi, meskipun banyak bicaranya ( cerewet) tidak bisa hilang, tetapi setelah kuperhatikan kayaknya dia sudah mulai berubah kearah yang lebih baik, Insya Allah !

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kejahatan maniku.) Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar